Pengikut

Selasa, 07 Juni 2011

Joisman Tanduru_YPR : Implementasi Tata Ruang Kota Palu dinilai Tidak Konsisten

Senin, 06 Juni 2011


IMPLEMENTASI TATA RUANG KOTA PALU DINILAI TIDAK KOSISTEN

PALU- Implementasi Tata Ruang Kota Palu dinilai tidak konsisten. Hal ini dikatakan koord. Deputi Perencanaa dan Tata Ruang Yayasan Pendidikan Rakyat Sulteng, Joisman Tanduru, kepada media ini pada siaran persnya kamis(2/6).

Menurutnya, ruang-ruang Publik semakin tidak menentu sehingga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat miskin. Selain itu, penetapan dan pengakuan terhadap wilayah kelolah rakyat tidak mendapat perhatian serius oleh pemerintah,

seperti perti pengelolaan Teluk Palu yang cenderung memberika peluang pada pembangunan usaha-usaha skala besar, hingga pemberian izin reklamasi pantai.


Mestinya kata dia, kalau pemerintah konsisten dengan pengembangan rumput laut di wilayah pesisir teluk palu, jangan ada izin lagi bagi pertambangan galian C diwilayah Palu Barat.

“kalau  kita jalan ke Donggala, kita akan menemukan banyak banyak sekali galian C. dan semuanya melakukan reklamasi untuk pembangunan dermaga pengankut” katanya.

Menurutnya, pemerintah harus mengevaluasi kembali mengimplementasi dari rencana Tata Ruang Kota Palu sebelumnya,  serta mensosialisasikannya pada masyarakat, sebab hingga saat ini masyarakat belum mengetahuibagaimana rencana implementasi  Rencana Detil Tata Ruang (RDTL) Kota Palu sebelumnya.

Ketidak konsistenannya juga terjadi diwilayah DAS Kota Palu, dengan adanya pembangunan rumah susun dan bangunan permanen lainnya. Menurut Peraturan Daerah (Perda) nomor 17 tahun 2002 tentang garis sepadanan pantai dan sungai Kota Palu wilayah itu adalah kawasan jalur hijau antara 50-100 meter  dari wilayah DAS.

Sasaran umum untuk kepentingan ekonomi masyarakat juga masih banyak tak berjalan sebagaimana mestinya. Pembangunan Pasar Petobo misalnnya. Hingga saat ini tidak banyak di tempati masyarakat. Hal ini juga terjadi di pasar modern Tavanjuka. Para pedagang masih enggan menempati pasar tersebut.

Pihknya juga khawatir, atas implementasi berbagai program yang coba di wacanakan pemkot saat ini, seperti program Green and Clean dan slogan Kota Palu City For All, jika kondisi Tata Ruang saat ini tidak di evaluasi dan di benahi. (SAHRIL)

Sumber : Media Alkhairaat

Sabtu, 26 Maret 2011

Perlu Pelibatan masyarakat lebih luas lagi

Selasa, 11 Januari 2011

Jeritan Hati Ku.....!!

Ku tau semuanya ada,
Ku tau banyak yang sengsara,
Ku tau itu, dari kenyataan yang ada...

Dalam inginku, ku melihat dengan hati dan nurani
ku lihat begitu banyaknya yang tak wajar,
namun ku tak berdaya.

Disana-sini jerit meradang,
siksa dan kematian kadang menghadang....
akankah ini terus terjadi...?
apakah yang masih kurang di negeri ini...?
sungguh ku tak mengerti lagi situasi ini....

Situasi yang terus dibuat dengan skenario sistematis....
yang membuat orang tak sadar dalam ketertindasannya,
diam dalam ketiadaan, dan terlena dalam kesengsaraan....

Sampai kapan ini terus terjadi....
inikah yang diwariskan tuk anak negeri....?
inikah yang terus akan merasuki raga dan pikiran kita...

sadar tapi tak berdaya.....
merasakan namun tak bergerak....
memilih tuk diam...adalah pilihan...

Betul atau tidak...kawan....!!

Senin, 10 Januari 2011

Serpihan Kegelisahan..

Serpihan Kegelisahan..

*) sungguh puisi indah yang membuatku kegilisah...
Arti Sebuah Kesetiaan.

Setia...tiada kata yang lebih indah selain S E T I A, banyak orang berharap memilikinya dan setiap orang mendambakan untuk mendapatkannya dari orang lain baik itu sahabat, kekasih, maupun saudara sendiri, karena memang merupakan hal yang sangat sulit untuk di miliki dan dapatkan dari setiap pribadi.

Dalam setiap hubungan antar pribadi ataupun kelompok, ke-setia-an adalah yang paling dibutuhkan bukan sekedar simbol tetapi juga teraplikasi dalam tindakan yang akhirnya berdampak pada komitmen kebersamaan, walaupun kadang kata S E T I A itu juga dipelintirkan dalam singkatan-singkatan miring seperti, Segala Tipu Ada, dan lainnya yang mungkin juga didasari dari sudah berkurangnya rasa kepercayaan yang terbangun.

Dalam hal ini, ada banyak yang kemudian dapat dilihat dari berkurang atau sudah tidak adanya ke-setia-an di khususnya pada kalangan masyarakat saat ini yang juga dapat kita katakan "krisis kepercayaan" akan kesetiaan. Dimana-mana kita lihat orang berkonflik akibat hilangnya tingkat kepercayaan baik pribadi lepas pribadi ataupun antar kelompok yang berujung pada saling curiga dan mencurigai satu sama lainnya.

Dapat juga kita lihat saat ini misalnya antara pemerintah dan rakyatnya terjadi kesenjangan yang berakibat dari sudah hilangnya kepercayaan rakyatnya atas sistem yang diberlakukan oleh negara dalam hal ini adalah pemerintah bersangkutan yang tidak lagi memperhatikan kepentingan rakyat baik secara sektoral ataupun rakyat secara umum.

Dengan demikian maka pentinglah saat ini kita lebih melihat diri dan pribadi kita baik pikiran ataupun tindakan apakah telah sejalan atau tidak, memang kadang sulit melihat ataupun menilai diri sendiri apalagi menyangkut soal ke-setia-an yang dapat menjadi subjektif dalam penilaiaannya.

Sungguh sebuah ironi jika kemudian hubungan antar kelompok maupun personal yang sudah tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya akibat kehilangan ke-setia-an dan juga kehilangan kepercayaan yang akan mempertanyakan komitmen dalam hubungan dan akhirnya memunculkan konflik.

Setidaknya saat ini prinsip minimal yang harus terbangun adalah belajar mengerti diri sendiri dengan objektif, menyadari akan pentingnya kebersamaan dalam perbedaan, menyadari kekurangan satu sama lain, mendukung setiap keputusan bersama dengan tindakan yang tidak mencederai hati masing-masing dengan pemberian penghargaan tinggi atas kesepakatan atau komitmen apa saja yang dibangun secara bersama.

Tiada yang hal paling istimewa selain ke-SETIA-an itu sendiri, dengan memiliki ke-setia-an akan menempatkan harkat dan martabat diri sebagai manusia yang memiliki hati, pikiran dan perbuatan yang sejalan.

Sabtu, 08 Januari 2011

Pohon Aren, Tanaman Keren di Zaman Modern | apa kabar sidimpuan online

Pohon Aren, Tanaman Keren di Zaman Modern | apa kabar sidimpuan online
Pemimpin Kreatif

Apakah kompetensi terpenting yang dibutuhkan dalam menghadapi situasi yang berubah-ubah dan semakin kompleks? Kepintaran membangun citra di mata publik? Bukan. Tapi, kreativitas dalam mengatasi persoalan.

Setidaknya, itulah yang ditemukan oleh tim IBM for Business Value yang melakukan studi bertajuk CEO Global Study. Studi ini bertumpu pada hasil survey yang dilakukan terhadap lebih dari 1.500 manajer dan eksekutif di berbagai penjuru dunia dan dari beragam jenis industri. Mereka sepakat bahwa kreativitas merupakan kompetensi terpenting dibandingkan berbagai kompetensi lain yang diperlukan seorang pemimpin dalam menjawab persoalan saat ini dan masa mendatang.

Dalam konteks studi ini, kreatif dipahami sebagai kemampuan menemukan cara-cara baru di dalam menangani persoalan. Seorang pemimpin kreatif tidak akan mengandalkan cara-cara lama, sekalipun bila cara lama itu terbukti sudah berhasil. Ia selalu terdorong untuk mengeksplorasi kemungkinan lain di dalam menangani suatu persoalan. Ia percaya bahwa selalu ada cara berbeda yang lebih bagus, dan ia berani menggali kemungkinan itu.

Ada pemimpin yang takut menanggalkan cara lama sebab cara baru belum tentu berhasil. Ia khawatir, jika upaya barunya itu gagal, citranya akan turun. Karena merasa nyaman dengan “status quo”, pemimpin tipe ini akan cenderung mandeg, tidak berani membuka jalan baru. Ia tidak memiliki cukup nyali untuk mendaki jalan yang terjal, membuka hutan yang masih asli, dan mengarungi arus sungai yang deras. Padahal, sesudah itu terbentang padang luas tempat ia bisa menikmati kerja kerasnya.

Mengapa kreativitas menempati urutan terpenting di antara sekian kompetensi lainnya? Dalam situasi yang mudah berubah-ubah dan semakin kompleks, bertumpu pada satu cara saja akan membuat seorang pemimpin tidak akan mampu menyiasati persoalan dengan cepat. Ia akan menunggu dengan gamang. Karena itu, para responden memandang penting fleksibilitas dan kemampuan adaptasi terhadap berbagai situasi baru.

Pemimpin kreatif akan berani mencoba cara-cara baru dalam menyelesaikan persoalan. Ia berani bereksperimentasi untuk menggali hal-hal yang tersembunyi. Bagaikan McGyver, karakter dalam film seri televisi yang terkenal beberapa tahun silam, ia percaya ada seribu kemungkinan untuk mengatasi satu persoalan. Pemimpin bisnis yang kreatif akan nyaman-nyaman saja hidup di tengah ambiguitas, sebab pikirannya dengan cermat menangkap kemungkinan baru.

Michael Michalko, penulis buku ThinkerToys, mengatakan bahwa kreatif atau tidak kreatif itu perkara kepercayaan. Para pencipta atau penemu adalah orang-orang yang kreatif karena mereka percaya bahwa mereka kreatif. Mereka penuh kegembiraan dan selalu berpikir positif. Mereka melihat “apa yang dapat” dan bukan “apa yang tidak dapat”, “apa yang mungkin” dan bukan “apa yang tidak mungkin”. Kata Michalko, mereka lebih suka memasukkan semua kemungkinan, yang nyata maupun yang imajinatif. “Jadi tak mungkin menjadi kreatif apabila Anda bersikap negatif,” tutur Michalko.

Tentu saja, pemimpin kreatif akan membuka peluang seluas-luasnya bagi organisasi dan orang-orang yang ia pimpin untuk melakukan eksplorasi terhadap persoalan, cara menanganinya, struktur dan cara kerja organisasinya, model bisnisnya, dan banyak lagi. Pemimpin yang berkacamata kuda akan berjalan lurus ketika seharusnya ia berkelit menghindari onggokan batu yang menghadang di tengah jalan.

Dian Basuki, pengamat masalah manajemen

Blog Oyi Lindu

My Great Web page